(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Tujuh tahun usia pernikahanku dengan Maya sungguh masa yang sulit.
Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar
karena hal-hal kecil. Karena Maya lambat membukakan pagar saat aku
pulang kantor. Karena meja makan di ruang keluarga yang ia beli tanpa
membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.
Kemarin, 26 Februari adalah ulang tahun Maya. Kami bertengkar paginya
karena Maya kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan
selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan
di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam itu sekitar pukul 7,
Maya sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan
malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.
Malam itu aku memilih untuk ikut latihan futsal bareng teman-teman
sekantor. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hujan
turun sangat deras, sehingga aku memutuskan untuk santai sejenak di cafe
sambil melepas penat.
Sudah larut malam, tapi hujan masih turun dengan lebatnya. Seperti
biasanya, kalau sudah hujan seperti ini, tiap sudut kota pasti banjir.
Aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan
bertemu dengan Maya membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di
rumah pukul 12 malam, 1 jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya
membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di rumah.
Kulihat Maya tertidur di sofa ruang tamu. Sempat aku berhenti di
hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam
hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 10 tahun sejak
duduk di bangku kuliah yang kini telah kunikahi selama 7 tahun, tetap
saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat
kalau aku sedang kesal sekali dengannya.
Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku
coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Maya menulis
cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah
ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Maya,
kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.
14 Februari 2004.
Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Agung, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.
Hmm… aku tersenyum, Maya yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.
14 Februari 2007,
Agung melamarku di hari jadi kami yang ke-3. Tuhan apa yang harus
kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.
6 Juni 2008,
Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Agung Aditya Purnama. Terima kasih Tuhan!
18 Juli 2008,
Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan
lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati
membuatkan teh untuk suamiku.
6 Juni 2012,
Tak sengaja kubaca pesan singkat di Hp Agung dari seorang wanita. Tiap
kata dan kalimat yang aku baca menunjukkan kalau Agung sangat dekat
dengan wanita itu. Tuhan, aku mohon agar Agung tidak pindah ke lain
hati.
Jantungku serasa mau berhenti...
25 Oktober 2012,
Aku menemukan surat ucapan terima kasih di kemeja Agung, atas candle
light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Ayu.
Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar
aku ketahui…
Jantungku benar-benar mau berhenti. Selama aku dinas di Jogja, aku
memang sempat menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bernama Ayu.
Ayu datang disaat usia pernikahanku dengan Maya telah mencapai 4 tahun.
Ayu, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan pernikahanku dengan
Maya karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan
Ayu lagi setelah dekat dengannya selama 8 bulan dan memutuskan untuk
tetap setia kepada Maya. Aku sungguh tak menduga kalau Maya mengetahui
hubunganku dengan Ayu.
4 Maret 2013,
Aku dihampiri wanita bernama Ayu, Ia menghinaku dan mengatakan Agung
telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal
daripadaMu.
Bagaimana mungkin Maya sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau
menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku
tahu Ayu, dia pasti telah membuat hati Maya sangat terluka dengan
kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu
kubayangkan apa yang Maya rasakan saat itu.
23 Maret 2014,
Agung marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia
menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di mall mencari
jam idaman Agung, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya
yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Agung agar ia
tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau
Agung belum pulang walaupun aku lelah.
Aku mulai menangis, Maya mencoba membahagiakanku tapi aku malah
memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam
kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya
dengan susah payah.
15 Mei 2013,
Agung butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka
membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat
membelikan sebuah meja, hadiah Anniversary Pernikahan kami untuk Agung.
Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Maya tak pernah mengatakan meja
itu adalah hadiah Anniversary Pernikahan untukku. Ya, ia memang
membelinya di malam Anniversary Penikahanku dengan dia dan menaruhnya
hari itu juga di ruang keluarga.
Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Maya sungguh
diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari
keluar kamar, kukecup kening Maya dan ia terbangun…
"Maafkan aku Sayang, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…"
Baru aku tau ternyata Maya begitu Mencintaiku..
Baru aku tau ternyata Maya begitu Menyayangiku..
Baru aku tau ternyata Maya begitu Pengertian kepadaku..
Baru aku tau ternyata Maya begitu Sabar kepadaku....
Baru aku tau ternyata Maya adalah ISTRI YANG SETIA..
Aku mencintaimu selamanya sayang...
