(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Salah
satu ciri istri idaman ialah wanita yang berasal dari keluarga shalih.
Ia merupakan wanita yang terbiasa melakukan berbagai jenis proyek
kebaikan, bahkan menjadi salah satu pelopornya. Lantaran sibuk dengan
proyek kebaikan itu pula, ia tidak pernah terlibat atau tertarik dengan
perbuatan buruk, sia-sia, dan dosa.
Lingkungan
sangat berpengaruh terhadap agama dan akhlak seseorang. Orang yang
baik, biasanya lahir dan dibesarkan di lingkungan orang baik-baik.
Sebaliknya, dari lingkungan yang buruk amat jarang lahir pribadi-pribadi
dengan akhlak yang penuh pesona.
Meskipun,
jika dilihat dari sejarah, kita mengenal beberapa orang baik yang lahir
dan berhasil mempertahankan kebaikannya di lingkungan keburukan.
Seperti ‘Asiyah istri Fir’aun dan Masithah yang menjadi pembantunya.
Meski berada dalam kekuasaan orang kafir, keduanya berhasil merawat iman
hingga dijamin masuk ke dalam surga.
Sebenarnya,
pribadi-pribadi yang lahir dari lingkungan buruk sekali pun bisa diubah
menjadi sosok-sosok berakhlak mulia. Persoalannya, mengubah tak semudah
membalik telapak tangan atau berkata sim salabim sebagaimana terdapat
dalam pertunjukan sulap.
Ada
kerja panjang, cerdas, dan ikhlas. Dibutuhkan inovasi dalam mengajak,
keikhlasan hati, dan ketulusan berupa kelembutan. Termasuk faktor-faktor
lain yang harus disinergikan hingga orang yang berasal dari lingkungan
buruk berubah menjadi orang baik.
Belum
lagi waktu yang lama untuk mengubah. Sebab hidayah memang mutlak milik
Allah Ta’ala, tak bisa dibagikan oleh siapa pun, pun dari seseorang
kepada orang yang dia cintai.
Kerja-kerja
inilah, terutama soal panjangnya waktu, yang sering menjadi kendala
utama. Alih-alih bisa mengubah istri yang berperangai buruk, sang suami
yang kurang teguh dalam memegang nilai-nilai Islam dan akhlak mulia
justru bisa terjerumus mengikuti langkah istrinya yang biasa dalam
kehidupan yang tak baik.
Karena
itu, khusus kepada para kaum Muslimin, hati-hatilah. Telitilah dengan
cermat. Amati dari dekat. Lihat keluarganya. Tanyakan kepada masyarakat
sekitar atau tempat calon istri Anda bekerja. Pastikan bahwa ia baik
dalam hal ini.
Jika
pun tidak baik, tapi Anda terlanjur mencintai, maka Anda harus memiliki
target perbaikan berkesinambungan agar istri Anda benar-benar berubah
menjadi sosok shalihah meski lahir dan dibesarkan dari lingkungan yang
kurang shalih.
Sebab setelah menikah, Andalah yang menjadi imamnya.
Wallahu a’lam. [Pirman/Keluargacinta]
Source: http://topicterhangat.blogspot.com/