(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Jika
dalam sebuah hadist Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa kebanyakan
penghuni neraka adalah wanita, bukan berarti para pria bisa tenang
begitu saja. Sungguh ada golongan pria yang harus menderita di neraka
karena mengabaikan tanggungjawabnya terhadap wanita.
Mereka adalah pria yang tidak mempedulikan anak-anaknya, atau sebagai
suami yang tidak menjaga istrinya, sebagai saudara yang tidak menjaga
kehormatan saudainya, dan seorang putra yang orang tuanya sudah tuan,
namun tidak menjaga dan merawatnya dengan baik. Berikut ini uraian dari
golongan pria yang masuk neraka
Hindari! Inilah 4 Golongan Pria Yang Masuk Neraka Walaupun Sudah Beribadah
1. Ayah Durhaka
Golongan pria pertama yang masuk neraka adalah ayah yang tidak
bertanggungjawab terhadap anak-anaknya. Ayah bukan hanya sekedar
pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM, setelah itu selesai
urusan, ayah bukanlah sosok asing di rumah yang bicara seperlunya, atau
hanya diperlukan Ayah merupakan pria yang bertanggungjawab terhadap
keluarga, istri dan putra-putrinya. Tidak hanya bertanggungjawab
terhadap , tapi juga akhlaknya, pendidikan, dan keberhasilan dunia dan
akhirat. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR. Muslim)
Sementara dalam Alquran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap orang beriman.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu atas api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS.At Tahrim:6)
Ayah merupakan benteng penjaga bagi putra-putrinya dari perbuatan
maksiat dan dosa. Jangan sampai seorang ayah kehilangan kepekaan iman,
sehingga membiarkan anggota keluarganya larut dalam gelimang maksiat dan
dosa. Atau yang lebih parah Ia sendiri yang menjerumuskan istri dan
anak-anaknya dalam dosa. Ada ancaman yang sangat berat terhadap ayah
yang tidak perduli terhadap agama dan akhlaq putra putrinya.
Seperti ayah yang tidak peduli dengan pakaian anak-anaknya, membiarkan
auratnya terbuka dan menjadi pemandangan umum. Atau seorang ayah yang
membiarkan anaknya pergi berdua-duaan dengan lelaki lain yang bukan
muhrimnya. Para pria seperti ini disebut dayyus, dan dayyus termasuk
terancam orang yang tidak masuk surga. Jika surga tidak menerima, tentu
neraka lah tempat kembalinya.
Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka adalah pecandu khamr, durhaka kepada orang tua dan dayus, yaitu orang yang tidak cemburu ketika bermaksiat orang bermaksiat dengan keluarganya. (HR Ahmad)
Ancaman terhadap ayah yang menjadi dayus sejatinya bertujuan agar mereka
menjadi pemimpin yang baik bagi anggota keluarga lainnya. Hari-hari
ini, banyak ayah yang merasa tanggungjawab dan pengasuhan anak
sepenuhnya ada di Ibu. Ia sudah merasa cukup memenuhi mereka dengan
berbagai fasilitas.
2. Suami yang Dzalim
Golongan kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang
durhaka dan dzalim kepada istrinya. Istri merupakan amanah yang
dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita
itu tentu mau melepaskan anak, saudara mereka karena mereka yakin
suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik.
Pesan berbuat baik kepada wanita bukan saja harapan setiap wali, tetapi
perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam kitab dan
sunnah.
....Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (Q.S Annisa:19).
Termasuk dalam hal yang baik yaitu, baik dalam bertutur kata, baik
memperlakukannya, tidak bermuka masam ketika bertemu, begitu juga baik
dalam nafkah. Bergaul dengan baik, berarti juga kesamaan dan kesetaraan.
Artinya suami akan mendapat perlakuan baik dari istri ketika suami
memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan suami diminta bersabar,
menerima kekurangan dari istrinya. Juga ketika istri, tidak melaksanakan
kewajibannya dengan maksimal.
“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti menyukai akhlak lain darinya”(HR Muslim).
Merupakan hak istri untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, baik itu
pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan semua keperluan yang
disesuikan dengan kemampuan suami dan status istri. Bahkan dalam hal
pangan, hak istri untuk mendapatkan makanan siap santap dari suaminya,
demikian juga butuh tempat tinggal. Sebagian ahli fiqih mengatakan,
tempat tinggal untuk istri, haruslah khusus untuk istri tersebut tidak
boleh bercampur dengan keluarga lainnya. Dan jika istrinya berasal dari
kalangan berada yang biasa dilayani dengan pembantu, maka haknya juga
untuk mendapatkan pembantu yang disediakan oleh sang suami.
Merupakan sebuah kedzaliman, jika suami memiliki kelapangan ekonomi
tetapi kikir terhadap istrinya. Bahkan cenderung mengebiri hak-haknya
Sifat kikir amat dicela Allah dan Rasul-Nya. Apalagi jika itu dilakukan
terhadap orang yang berhak, seperti istri. Oleh sebab itu, dalam kasus
suami yang mampu tapi kikir, Rasulullah SAW memberi keringanan atas
istri untuk mengambil harta suami sewajarnya, meski dengan diam-diam.
Hal ini tidak dianggap pencurian, karena Ia memiliki hak pada harta
suami.
Sungguh pria sejati yang menafkahi keluarga dari keringatnya sendiri,
seorang pria sejati tidak memberi beban kepada istrinya untuk mencari
nafkah apalagi sampai bergantung kepada pemberian istri, ini
mencerminkan tanggungjawab dan kepemimpinan yang lemah.
Tidaklah seorang hamba dibebankan tanggungjawab untuk kemudian dia abai, melainkan dia tidak mencium aroma surga (HR Bukhari).
3. Saudara Laki-Laki yang Tidak Bertanggungjawab
Golongan laki-laki yang tidak masuk surga adalah saudara laki-laki,
sebab jika ayahnya telah tiada, tanggungjawab menjaga seorang wanita
adalah saudara lelakinya. Termasuk dalam hal ini paman, jika mereka
hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik atau keponakannya
dibiarkan jauh dari ajaran Islam, maka tunggulah ancaman neraka di
akhirat kelak.
Saudara laki-laki memiliki kewajibann yang melekat terhadap
saudara-saudara perempuannya. Mulai dari mendidik, menyayangi,
melindungi, dan membela mereka. Jika ayah telah wafat, maka saudara
laki-laki berperan sebagai pengganti ayah, wajib memberikan nafkah
kepada saudara perempuan yang belum menikah atau yang menjanda jika
mereka tidak mampu.
Saudara perempuan wajib mentaati dan menghormati saudara laki-lakinya.
Jika janda tersebut memiliki anak, maka anak tersebut yang wajib
memberikan nafkahnya adalah ayahnya, jika Ayah telah wafat maka kakek
dari ayah atau saudara dari ayah yang wajib memberi nafkah kepada
anak-anak janda tersebut.
Saudara laki-laki yang menelantarkan saudara perempuan, maka Ia telah
durhaka kepada orangtuanya. Tugas lain dari saudara laki-laki adalah
menjaga harta saudara perempuannya, jangan malah mengkhianatinya dengan
merampas hartanya. Ia juga tidak boleh menghalang-halangi jika ada orang
baik yang melamar saudarinya.
4. Anak Laki-laki yang Tidak Merawat Orangtuanya
Golongan pria keempat yang masuk neraka karena gagal menjalankan tugasnya adalah anak laki-laki.
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, Wahai Rasulullah siapakah orang yang palign berhak aku pergauli dengan sebaik-baiknya?”Sabdanya, “Ibumu” Ia lalu bertanya “kemudian siapa ?” Sabdanya “Ibumu” “kemudian siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu”, “Kemudian siapa lagi”, Sabdanya “Ayahmu” (HR. Muslim).
Secara khusus, Islam menekankan hak ibu terhadap laki-laki kandungnya,
mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak. Karena setelah anak
perempuan menikah Ia lebih berkewajiban mentaati suaminya dibanding
Ibunya, sedangkan anak laki-laki meski sudah menikah, tidak mengurangi
kewajibannya untuk berbakti kepada orangtuanya. Dan berbakti kepada Ibu
lebih di dahulukan dari pada kepada istrinya. Jadi pengabdian anak
laki-laki kepada Ibu kandungnya tidak putus, tetapi pengabdian anak
perempuan lebih utama kepada suaminya. Oleh Karena itu, anak laki-laki
lebih terikat kepada Ibunya dibanding anak perempuan. Laki-laki wajib
menafkahi istri dan anaknya, dan juga wajib memperhatikan nasib ibu
kandungnya. Jika ibunya tidak mampu, maka kewajiban nafkahnya juga
menjadi tanggungjawabnya. Seorang Istri juga harus menyadari bahwa
kewajiban suami juga terhadap ibu kandungnya, maka para istri doronglah
suami untuk lebih berbakti kepada Ibunya.
Orang-orang yang durhaka kepada Ibu bapaknya, Allah akan menurunkan
siksanya di dunia ini. Tidak harus menunggu menanti di alam kuburAtau di
akhirat, siksaan itu berbagai macam bentuknya, bisa masalah keluarga
yang tidak kunjung selesai, anak-anak yang tidak bisa diarahkan, rezeki
yang tidak kunjung datang dan lain sebagainya. Maka penting bagi anak
laki-laki untuk memperhatiakan Ibu kandungnya. Itu sudah menjadi tugas
dan tanggungjawabnya jangan sampai tugas ini dilalaikan yang menjadi
penyebab Ia terjerumus ke neraka.
sumber : berdakw4h | gotopublik
