(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Berikut
ini adalah penjelasan dr. Tan Shot Yen tentang Kebohongan Manfaat Susu
yang belum diketahui khalayak ramai. Benarkah susu sapi baik untuk
kesehatan, benarkah susu sapi baik untuk tulang?

Atau malah sebaliknya. Bahkan itu hanya sekedar bualan belaka, sebagai
copywriting sebuah iklan produk susu? Mari kita simak ulasan berikut
ini…
==========================
Dear dr Tan, saya senang sekali membaca rubrik yang Dokter asuh. Jawaban
dokter dari setiap pertanyaan sangat tegas, lugas dan cerdas.
Saya pernah dengar seminar dari salah seorang ahli gizi manusia harus
mengonsumsi susu sejak lahir hingga menutup mata (meninggal) sedangkan
menurut dokter Tan manusia hanya mengonsumsi susu sejak 0-2 tahun saja
itupun hanya ASI.
Saya yang orang awam ini jadi bingung Dok. Anak saya sudah berumur 3 tahun, apakah anak saya masih perlu mengonsumsi susu?
Saya harap Dokter berkenan untuk menjawabnya.
Veni, Bekasi
——————————————
Jawaban :
dr. Tan Shot Yen:
Hai Veni, Jika anda mengikuti rubrik saya sungguh-sungguh dan MEMBACA
SEMUA INFORMASI BERMANFAAT melalui jalur internet dengan situs-situs
yang dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana pernah saya kutipkan
sebelumnya, tentu anda tidak akan bingung.
Anda akan terbiasa bertanya,”Mengapa?” dan “Mengapa?” lagi dan
selanjutnya menjadi kritis dengan jawaban yang diberikan sebelum
‘menelan’ mentah-mentah jawaban dari siapa pun, pakar di bidang apa pun.
Letak permasalahannya bukan pada perdebatan atau siapa yang salah dan
siapa yang benar. Jika pendapat pakar (yang bisa salah bisa benar) saja
yang dijadikan pegangan, maka kepentingannya terletak justru pada si
pakar tersebut – dan apa/siapa yang dibelanya, ada unsur kepentingan apa
di balik opini-opininya, pihak mana yang mendukungnya untuk menyuarakan
pendapatnya itu.
Begitu pula dengan menghadapi semua paparan saya. Karena itu saya selalu
sertakan bacaan atau sumber informasi lain sebagai pembanding, jika
pembaca membutuhkannya untuk memperluas pandangan serta menilai.
Sehingga pada akhirnya kita sama-sama paham, siapa yang diuntungkan atau
sebenarnya masyarakat diperlakukan sebagai tujuan atau sekadar
dijadikan sarana diam-diam demi kepentingan yang sesungguhnya BUKAN
untuk setinggi-tingginya kesehatan manusia.
Karena itu, ilmu kesehatan sangat tidak mungkin berdiri sendiri. Kita
perlu merujuk pada antropologi, sejarah pola hidup dan pola makan
manusia, sejarah kepentingan teknologi industri pangan maupun kesehatan,
dan kembali lagi : apakah cocok untuk kesejahteraan manusia yang
optimal lahir-batin-mental-spiritual?
Saya tidak pernah paham dengan alasan mengapa manusia harus mengonsumsi
susu selama usia pertumbuhan yang bukan dari ASI, apalagi sepanjang
hayat – seakan-akan bahasanya seperti yang sering dipakai di kalangan
pergaulan anak gadis saya: “Nggak cocok? Paksain ajaaaaaaa!!”
1. Kita perlu belajar dari hewan menyusui. Bahwa susu hanya cocok sebagai “makanan antara”, ketika bayinya belum sanggup mengunyah dan mencerna.
Begitu bisa tegak, berjalan, mencari makan dan mampu mengunyah makanan
padat, maka SUSU BUKAN LAGI KONSUMSI ALAMIAHNYA. Saya tidak menyamakan
manusia dengan hewan menyusui, tapi kita perlu belajar dari alam, fakta
dan menyadari berbagai unsur permainan “kepentingan yang lain” di balik
jargon kesehatan yang hanya dipakai untuk nilai jual.
Faktanya, enzim pencernaan manusia untuk mencerna susu juga sudah mulai menyusut pada usia 2-3 tahun.
Berbarengan dengan itu, gigi manusia pun SUDAH KOMPLIT di usia 2 tahun.
Aha! Cocok, bukan? Lepas dari susu, kunyah makanan padatnya!
2. Alam tidak menyediakan susu apa pun selain ASI untuk konsumsi manusia.
Susu sapi hanya untuk generasi penerus sapi. Susunannya pun sama sekali tidak cocok untuk manusia.
Sekali lagi, komposisi susu sapi hanya untuk membuat anak-anak sapi
gemuk, bertulang besar, tidak perlu pandai apalagi menikmati umur
panjang.
Susu sapi alami sama sekali tidak cocok untuk manusia. Karena
“dipaksakan” supaya cocok, maka agar tidak mengandung bakteri, manusia
melakukan sterilisasi susu antara lain dengan pasteurisasi – efek
sampingnya? semua zat gizi susu rusak total (karena itu setelah proses
sterilisasi perlu diimbuhkan berbagai zat dari luar supaya kelihatan
“bergizi”-proses pasca sterilisasi inilah membuat heboh ‘menyusup’nya
bakteri beberapa waktu yang lalu).
Begitu pula agar kolesterol susu sapi yang tinggi tidak membuat manusia
kegemukan dan naik kolesterolnya, ditemukanlah teknik yang membuat susu
sapi mendapat istilah ‘skim’, karena minyaknya ditarik/diambil – efek
sampingnya? manusia tetap gemuk.
Karena bukan melulu kolesterol yang bermasalah, tapi GULA SUSU (Laktosa)
dan KEASAMANNYA yang membuat tulang justru semakin keropos.
Supaya “cocok” juga untuk kebutuhan kecerdasan anak manusia, maka pemaksaannya adalah lewat jalur teknologi.
Susu sapi yang miskin gizi itu ditambahkan zat-zat/asam amino yang
diduga sebagai bagian dari kebutuhan perkembangan saraf dan otak.
Padahal, kecerdasan LEBIH DARI SEKADAR ASAM AMINO atau zat yang
diimbuhkan tersebut. Kecerdasan anak berkaitan sangat erat dengan IMD
(Inisiasi Menyusu Dini) saat anak mengintegrasikan KECERDASAN PERTAMANYA
secara instinktual untuk merayap menemukan puting susu ibu selepas
dilahirkan sekaligus gerakan merayap tersebut menyelesaikan dan
mengintegrasikan refleks-refleks primitifnya!
Kecerdasan terletak pada antibodi prima MANUSIA yang alami, yang hanya terdapat dalam ASI hingga usia 2 tahun saja.
Kecerdasan juga berhubungan dengan pematangan “sambungan-sambungan
sistem syaraf” dari 3 susunan otak manusia (reptilian brain yang
primitif: hanya mengurus sistem pertahanan diri/survival, mamalian brain
yang berfungsi mengenali cinta, rasa aman, peduli, kekeluargaan dan
neo-mamalian brain yang baru setelah usia 6 tahun mengenal istilah cara
pikir ‘rasional’.
Kecerdasan manusia bukan melulu tentang pandai berhitung dan berbahasa
asing, tapi cerdas secara emosional, spiritual. Sehingga yang membuat
manusia maju dan makmur bukan hanya mereka yang ber IQ (Intelligence
Quotient) tinggi, tapi juga ber EQ (Emotional Quotient) tinggi sehingga
mampu menjalin relasi, serta ber SQ (Spiritual Quotient) membanggakan-
sehingga mampu bersyukur, berhubungan mesra dengan Penciptanya.
Mana ada anak sapi bisa begini?
3. Jika argumen bahwa susu diasup sebagai sumber kalsium (yang dipercaya menguatkan tulang), maka perlu ditegaskan kembali :
APAKAH HANYA SUSU SATU-SATUNYA SUMBER KALSIUM?
Saya mencurigai ‘nasehat-nasehat’ yang menganjurkan orang minum susu
akhirnya sebatas karena penelitian yang sangat sepihak, sangat
kadaluwarsa bahkan, dan celakanya : karena ‘kepercayaan’ seri nutrisi
jaman penjajahan Belanda yang masih berurat akar.
Tulang pun menjadi kuat BUKAN SEMATA-MATA HANYA KARENA KALSIUM.
Melainkan kita perlu mengasup Magnesium, Seng (Zinc), Boron, Mangaan,
Provitamin D-3, dll.
Nenek moyang kita sebelum mengenal pabrik susu tidak pernah menderita
patah tulang akibat keropos sebelum waktunya. mengapa? sekali lagi,
mereka mengonsumsi makanan ALAM yang DIKUNYAH, yang juga memperkuat
tulang selepas susu ibu di atas 2 tahun!
Saya pernah menulis di tabloid ini pula, bahwa mengonsumsi 1 cangkir
selada bokor (iceberg lettuce) memberikan kekuatan tulang yang di hari
tua, mencegah terjadinya patah tulang panggul! (telah dirisetkan oleh
para ahli dari Harvard University, Amerika Serikat yang melibatkan
72.000 wanita).
Kalsium pada susu yang bukan ASI sekali lagi saya tegaskan, TIDAK
DIKENAL oleh tubuh manusia. Oleh karenanya bersifat “Non-bio-available”-
jadi, bukannya membuat tulang lebih kuat, malah kalsium akan ‘nyasar’
ke tempat yang salah… dan tempat yang paling sering menjadi sasaran
pendaratan kalsium adalah.. dinding pembuluh darah!
Bukannya mendapatkan manfaat positif dari susu, malah mendapat bonus
penyakit yang sangat tidak menyenangkan: penebalan dinding pembuluh
darah dan segala akibatnya (sebagaimana telah dipaparkan dalam salah
satu jurnal kedokteran anak oleh Dr. Frank Oski, Upstate Medical Center
Department of Pediatrics, USA). Orang Amerika dan Eropa Utara
mengonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium sehari, tapi tetap saja mereka
lebih menderita osteoporosis/keropos tulang daripada orang Asia dan
Afrika yang mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per hari.
Mengapa? daging merah, gula, tepung dan bahan makanan berupa bumbu non-alam menyebabkan keasaman darah meningkat.
Untuk menetralisirnya, tubuh mengambil kalsium (yang bersifat alkalis)
dari tulang. Sehingga masalah osteoporosis bukanlah bahwa seseorang itu
tidak cukup memakan kalsium.
Masalahnya adalah mereka kehilangan kalsium. Dengan demikian, mengasup
lebih banyak kalsium ke dalam tubuh bukanlah jawabannya, karena Anda
bisa kehilangan lebih banyak daripada yang Anda asup (misalnya dengan
tetap memakan daging merah, gula, terigu, beras, berbagai saus dan kecap
produksi pabrik, dll).
Apabila ekstra kalsium yang dikonsumsi berasal dari makanan yang
mengandung protein tinggi seperti susu, keju dan es krim, keadaan
menjadi lebih buruk karena makanan ini adalah pembentuk asam yang sangat
tinggi. Tubuh semakin kehilangan kalsium.
4. Dari hasil konvensi dunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus 2006),
Elisabeth Sterken, BSc.MSc Nutritionist INFACT Canada/North America
menuliskan bahwa susu bukan ASI menyebabkan: meningkatnya risiko asma,
alergi, penurunan perkembangan kecerdasan, peningkatan risiko infeksi
saluran napas atas, kekurangan nutrisi yang tidak didapatkan dalam susu
non ASI, risiko kanker masa anak, risiko penyakit kronik, risiko
diabetes, risiko penyakit kardiovaskuler, risiko kegemukan, risiko
infeksi pencernaan, risiko radang telinga, risiko semua efek samping
akibat PENAMBAHAN ZAT YANG TIDAK SEMESTINYA DALAM SUSU BUBUK/CAIR (sudah
terbukti mulai bakteri hingga melamin, bukan? tunggu saja ‘seri
berikutnya’)
Anda belum mengikuti pelatihan saya mengenai “teknik membaca label
makanan produksi pabrik”, bukan? Naaaaaahh!! ada baiknya anda mulai
membalik kemasan susu anak anda. Banyak istilah “ajaib” yang membuat
anda mengerenyitkan dahi.
Semua susu sudah mengandung laktosa/gula susu, seperti saya sebut di
atas. Namun supaya “betah” di lidah anak yang doyan manis “tingkat
tinggi” (yang penting doyan, kan?
Mana ada pabrik mau peduli dengan masalah kelebihan karbohidrat buruk!)
tetap diimbuhi “sukrosa” (gula rantai panjang!) atau “corn syrup” (gula
‘pembunuh’ nomor satu di Amerika Serikat), belum lagi “perisa” (Apakah
anda paham betul istilah ini? Nama lainnya adalah rasa SINTETIS!), dan
susunya pun berasal dari “skimmed, powdered, milk”.
Bahkan susu cair pun melalui proses skim dahulu. Anda perlu pun bisa
terheran-heran, mengapa susu yang sudah cair perlu dijadikan bubuk, lalu
dibuat ‘cair’ lagi.
30-40 tahun yang lalu (ketika anak Indonesia mentah-mentah menolak susu
karena tidak doyan bau susu dan harus ‘dipaksa’ minum), label komposisi
susu bubuk cukup tertulis: WHOLE MILK. Titik.
Risiko whole milk pun membuat manusia terpaksa seperti sapi sungguhan: gemuk, bodoh, lamban, berusia pendek).
Semestinya para pakar yang memang mau menyuarakan tentang susu,
sebelumnya perlu mengikuti konvensi dunia serupa ini yang memang
diselenggarakan bagi para pakar, pengayom kesehatan dan informasi yang
terbaru bagi masyarakatnya.
Konvensi ilmiah yang berkualitas tinggi dan kredibel tentu
diselenggarakan tanpa sponsor pabrik teknologi pangan atau farmasi yang
mempunyai kepentingan di dalamnya!
5. Sebagai tambahan, salah satu pilihan : anda bisa membuka situs
Dr. Mercola, http://www.mercola.com, ketik “milk” (atau topik apa pun
yang anda ingin ketahui) di kolom mesin pencari artikelnya. Anda akan
berkelana ke ‘dunia baru’ dan membaca berbagai hal yang telah
diperjuangkan banyak orang saat ini, sementara negara kita masih menjadi
‘keranjang pembuangan’ berbagai produk yang sudah tidak lagi diterima
masyarakat dari mana produk itu berasal.
Saya sangat menyesali kepercayaan dan mitos akan susu ini merasuk di
benak ibu-ibu yang hidup dengan ekonomi pas-pas-an, sehingga ada faham
‘asal anak sudah minum susu, rasanya aman!’ – padahal gizi anak
membutuhkan lebih.
Anak bergigi membutuhkan makanan untuk dikunyah, dengan sumber
karbohidrat-protein-dan lemak yang jauh lebih tinggi tingkatannya.
Bukan susu yang berasal dari sapi dengan pakan buatan manusia bernama
MBM/Meat-Bone-Meal yang menyebabkan sapi membentuk protein asing bernama
Prion sebagai cikal bakal sapi gila/madcow (Lihat Nyata edisi II
Agustus 08, edisi IV Mei 08)
Anak-anak kita bertulang dan bergigi kuat hingga akhir hayatnya karena
gaya hidup sehat, bukan minum susu segelas tiap malam sambil terpana di
depan televisi atau game komputer, yang lincah hanya kedua jempol tangan
kanan-kirinya.
Gaya hidup sehat mengandalkan makanan alam lepas campur tangan industri,
tubuh bergerak keseluruhan bermain petak umpet, lompat tali atau
layang-layang.
Silahkan simpulkan sendiri setelah membaca artikel di atas. Dan sebarkan ke temanmu jika kamu anggap artikel ini bermanfaat.
sumber : duniaobat