(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Apalagi anak yang sudah mampu mengenali ekspresi wajah bahkan sebelum
mereka mampu berkomunikasi. Artinya bahwa perkataan negatif yang
disampaikan ke anak sejak masih bayi pun mampu memberikan dampak
psikologis tertentu kepada anak.
Yang membedakannya dengan anak yang lebih besar adalah anak-anak dengan
usia 2 tahun ke atas sudah mampu merespon balik ucapan orangtua.
Sementara itu pada saat masih bayi tidak demikian.
Jadi, pada saat orangtua berteriak kepada anak yang lebih besar, si anak
mungkin saja bisa membalas teriakan tersebut. Hal itu tergantung dari
watak dan didikan sejak dini.
Ada banyak faktor yang bisa memicu kenapa orantua mengucapkan kalimat
negatif kepada anak. Mulai dari kebiasaan orangtua sendiri yang sering
melontarkan kata-kata kasar hingga faktor emosional.
Adapun untuk anak-anak usia dini, kebanyakan orangtua 'kelepasan'
mengucapkan kata-kata kasar lebih disebabkan karena beban emosional
semisal kelelahan atau sedang menghadapi permasalahan tertentu.
Berikut ini ada sepuluh
kata-kata negatif yang sering diucapkan oleh orangtua di Indonesia yang
mampu mempengaruhi mental mereka nanti.
1. Aduh, masa anak Mama lambat seperti ini, sih.
Ketika mendengar perkataan ini, tentu saja anak akan merasa sangat sedih
sekalipun ungkapan kesedihan tidak langsung ditampilkan atau tampak
pada anak.
2. Malu donk, Wawan saja berani. Masa kamu kagak?
Terus menerus dibandingkan dengan anak lain, dia akan merasa sedih dan
jengkel. Bahkan kita pun yang sudah dewasa jika diperlakukan demikian
juga akan merasa sama.
3. Kamu ini anak siapa sih? Mama nggak punya anak seperti ini.
Perkataan seperti ini juga akan melukai hati anak. Apalagi jika sudah
menyangkut tentang pengakuan sebagai orangtua anak. Anak akan merasa
dirinya sudah tidak lagi disayang sama orangtuanya.
4. Kamu tuh ya, selalu nggak pernah dengerin omongan Mama dan Papa.
Ucapan seperti ini efeknya lebih mirip seperti efek memberikan larangan
kepada anak. Akibatnya, anak akan menjadi ragu untuk melakukan sesuatu
karena merasa setiap perilakunya selalu dikritik orangtua.
5. Dasar anak bandel...!
Label negatif lagi dan kalau terus menerus seperti ini, bisa-bisa anak
akan berpikir memang seperti yang disebutkan oleh orangtuanya tadi. Bisa
jadi berperilaku sesuai dengan label yang diberikan.
6. Kamu kok jorok sih seperti ayah.
Jangan sampai anak Anda berpikir dan berperilaku seperti yang diucapkan oleh salah satu orangtuanya.
7. Kamu diam saja di rumah. Tidak usah ikut.
Membuat anak merasa dirinya seperti ditolak dan tidak disayang serta bisa menumbuhkan rasa takut dalam diri anak.
8. Bukan begitu caranya, sini biar ibu saja yang mengerjakan. Begitu saja kok tidak bisa.
Ini yang mana orangtua terlalu ikut campur atau melakukan intervensi
atas hal yang dilakukan oleh anak, sehingga bisa mengambat rasa poercaya
diri anak.
9. Jangan cengeng, jangan manja, kamu kan sudah besar.
Jangan salah, perilaku anak yang menangis merupakan ekspresi dari
kekecewaan dan merupakan salah satu cara anak untuk mengungkapkan bentuk
rasa kecewanya.
10. Kamu bicara apa sih? Mama tidak ngerti. Sudah diam saja.
Duh, ucapan yang kayak gini bisa membuat anak merasa ditolak dan tidak
dihargai sekaligus juga dapat menghambat rasa percaya diri anak.
Dalam diri anak akan timbul rasa takut karena karena sering dibentak dan
diprotes atas perilaku tertentu yang ia kerjakan. Anak juga dapat
menarik diri untuk menghindari situasi dimana ia bisa kembali diprotes
lagi nantinya.
Sebagai orangtua, sebisa mungkin bisa mengontrol emosinya agar bisa
menghindari perkataan negatif yang secara tak sadar sering keceplosan
atau kelepasan kata-kata negatif.
sumber : ardina