(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Persoalan
suami yang mendahulukan orang tua daripada anak-istrinya seringkali
menjadi salah satu faktor pertengkaran keluarga. Tapi, bukankah seorang
anak juga tidak boleh menelantarkan orangtuanya sendiri?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ayah-ayah kamu dan anak-anak kamu, kamu tidak mengetahui siapa di
antara mereka itu yang lebih dekat manfaatnya buat kamu. (Yang demikian
itu) adalah satu ketentuan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui dan Maha Bijaksana.” (an-Nisa’: 11)
Sementara itu, Allah juga telah mengingatkan bahwa hanya Allah yang
boleh menjadikan posisi orangtua menjadi prioritas kedua bagi seorang
anak. Tidak boleh ada hal lain yang membuat seseorang menggeser
prioritas orangtuanya, kecuali Allah.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang
diantara keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-sekali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya
perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah
kepada keduanya perkataan yang baik” (QS. Al-Isra: 23)
Orangtua yang telah melahirkan kita ke dunia, membesarkan dan memberikan
pendidikan kepada kita memanglah keluarga yang harus kita dahulukan
prioritasnya. Tapi, bukankah istri yang telah kita halalkan dan juga
anak-anak yang merupakan darah daging kita juga adalah keluarga?
Kedua-duanya adalah juga keluarga, meski kita mungkin baru bertemu
dengan istri setelah dewasa, bukan sepanjang hidup seperti kita dengan
orangtua. Maka, sebaiknya seorang lelaki dapat menyeimbangkan kebutuhan
keduanya, sehingga tidak ada satupun yang merasa terpinggirkan. Seorang
istri juga sepatutnya menyadari bahwa dengan menjadikan lelaki tersebut
sebagai imamnya, ia juga telah bergabung menjadi keluarga si lelaki,
yang berarti orangtua si lelaki adalah orangtuanya juga.
“Jika Allah ta’ala memberikan kepada salah seorang di antara kalian
kebaikan – nikmat atau rezeki, maka hendaknya dia memulai dengan dirinya
dahulu dan keluarganya”.
sumber : siraman